European
Super League Mengancam FIFA
ESL
(European Super League) belakangan ini ramai diperbincangkan. Memang apa itu
ESL? ESL adalah kompetisi yang dibentuk oleh beberapa klub besar di Eropa
diluar naungan FIFA. Jadi bisa dibilang ESL adalah versi lain dari Champions
League. Namun, peserta dari kompetisi ini dituntut untuk keluar dari kompetisi
domestik yang berada di bawah naungan FIFA seperti EPL dan La liga.
Ada 12 klub raksasa Eropa
yang saat ini menyetujui pembentukan kompetisi ini. Yaitu Adalah :
1.
Arsenal
2.
Manchester United
3.
Manchester City
4.
Liverpool
5.
Chelsea
6.
Tottenham
7.
Barcelona
8.
Real Madrid
9.
Atletico Madrid
10.
Inter Milan
11.
Ac Milan
12.
Juventus
Pagelaran ini di ketuai oleh presiden
Real Madrid yaitu Florentino Perez dan memiliki wakil ketua Andrea Agnelli (bos
Juventus) serta Joel Glazer (wakil ketua MU).
Lalu apa pengaruh dari kompetisi ini terhadap
kompetisi yang berada di bawah FIFA seperti EPL?
Tentu jumlah penonton akan berkurang
secara drastis dan mengakibatkan pemasukan menjadi sedikit. Selain itu,
keseruan sepakbola akan berkurang karena berpindahnya klub besar dan hanya
menyisakan klub kecil. Peristiwa Giant Killing mungkin tidak akan pernah
terjadi lagi.
FIFA juga mengancam kepada setiap
pemain yang mengikuti kompetisi ESL dilarang untuk membela timnas mereka dan
bermain di liga bentukan FIFA. Hal ini merupakan perlawanan FIFA dan UEFA
terhadap ESL. Banyak legenda sepakbola eropa yang mengecam ESL. Diantaranya
seperti Garry Neville dan Roy Keane (legenda MU).
Munculnya Gagasan European Super League
Para pemilik klub besar di Eropa
seperti MU dan Liverpool saat ini merasa bahwa pemasukan mereka sangat kecil
dan bahkan cenderung merugi. Hal ini tidak sebanding dengan gaji pemain yang
semakin meningkat. Ditambah Covid yang menyulitkan mereka. Kita bisa lihat
Barcelona sebagai tim yang memiliki income terbesar di dunia yang mencapai 870
juta Euro per tahun nyaris mengalami kebangkrutan. Sedangkan Chelsea setelah 10
tahun baru merasakan untung yang hanya sebesar 25 juta Euro.
FIFA dan UEFA saat ini menjadi
pemegang kendali setiap liga di Eropa. Mereka yang berwenang untuk menentukan
hak siar tv di setiap liga, sehingga income akan lebih banyak ke mereka. Selain
itu jika kita bandingkan UCL dan ESL, jumlah hadiah uang yang diterima klub
yang juara sangat jauh sekali. Di UCL tim yang juara hanya mendapat 80 juta
Euro sedangkan di ESL 1 milyaran Euro. Bahkan hanya sekedar ikut di ESL, tim
tersebut bisa mendapat uang sebesar 130 - 260 juta Euro. Ini yang menjadi
pertimbangan tersendiri oleh 12 klub di atas.
Selain itu, banyak sekali pemain yang
melayangkan protes terhadap UEFA walaupun tidak secara langsung. Mereka
mengeluhkan jadwal pertandingan yang sangat padat, seminggu bisa 2 kali
bertanding di 2 negara yang berbeda. Bahkan Toni Kroos, gelandang andalan Real
Madrid menyatakan bahwa ini adalah perbudakan berkedok sepakbola. Sementara
FIFA dan UEFA menikmati income dari hak siar UCL, UEL, Piala Dunia dan
lain-lain yang tiap tahunnya selalu meningkat.
Bisa dibayangkan apabila banyak
pemain bintang yang hijrah ke ESL, kualitas dari liga-liga bentukan FIFA dan
UEFA akan menurun. Sehingga mengakibatkan rating turun dan income juga
berkurang. Apa jadinya jika piala dunia tanpa Messi dan Ronaldo, tentu kurang
menarik dan antusiasme penonton akan turun drastis. Hal ini yang membuat FIFA
mengecam pembentukan ESL. Belum ada kabar kapan terlaksananya ESL ini. Namun
kemungkinan besar tahun depan liga ini akan dilaksanakan.











